ROSASEA: Pengertian, Penyebab, Gejala, Penanganan

Rosasea adalah penyakit kulit kronis yang ditandai eritematosa di wajah bagian tengah (centro facial) yang berlangsung selama beberapa bulan. Rosasea merupakan penyakit yang ditimbulkan oleh beberapa faktor pencetus seperti makanan pedas, minuman panas, stres, sinar matahari, obat-obatan, dan kosmetik. Masalah yang ditimbulkan oleh penyakit ini tidak hanya dari segi medis, tetapi juga memengaruhi hubungan sosial dan psikologis individu.

Gejala klinis rosasea dibagi menjadi dua jenis, yaitu gejala primer dan gejala sekunder. Gejala primer yaitu berupa eritematosa, papul, pustul, dan telangiektasis. Gejala sekunder yaitu berupa rasa terbakar atau tersengat, plak, kulit kering, edematosa wajah, phymatous, gejala okular, dan peripheral flushing. Rosasea dibagi menjadi empat subtipe, yaitu subtipe eritemato-telangiektasis, papulopustular,

phymatous, dan okular. Perkembangan derajat rosasea dari satu subtipe ke subtipe lain tidak terjadi, tetapi subtipe tersebut bisa saling tumpang tindih pada individu yang sama. Diagnosis rosasea sering ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan klinis, pasien sering datang berobat karena alasan kosmetik serta telah berpindah-pindah dari satu dokter ke dokter lainnya. Pemeriksaan laboratorium KOH merupakan pemeriksaan penunjang untuk membantu
menegakkan diagnosis dengan didapatkan Demodex folliculorum. Pengobatan rosasea prinsipnya adalah menghindari faktor pencetus dan mengurangi inflamasi, sesuai dengan patogenesis terjadinya rosasea yang
hingga saat ini penyebab pastinya masih belum diketahui. Dasar pemilihan jenis pengobatan disesuaikan dengan subtipe rosasea. Berbagai modalitas terapi dapat dipilih seperti obat topikal, obat sistemik, laser, ataupun pembedahan.

Terapi penyakit rosasea dapat berupa pengobatan sistemik maupun topikal menurut Pedoman Diagnosis dan Terapi Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin 2012. Pengobatan sistemik yang diberikan berupa antibiotik yaitu tetrasiklin, eritromisin, minosiklin, doksisiklin,
dan metronidazol. Pengobatan topikal yang dapat diberikan yaitu metronidazol, asam azelaik, dan retinoid. Terapi lain yang bisa diberikan adalah spironolakton (untuk rosasea tipe phymatous), laser vaskular atau intense pulsed light, dan pembedahan (untuk rosasea tipe phymatous). Rosasea tipe okular sebaiknya dikonsulkan ke dokter spesialis mata untuk pengobatannya.
Pengobatan topikal yang sering diberikan pada pasien rosasea pada penelitian ini diantaranya adalah metronidazol (32,6%), tretinoin (28,6%), asam azelaik (26,5%), dan klindamisin (18,4%). Pengobatan sistemik
pasien rosasea di Divisi Kosmetik URJ Kesehatan Kulit dan Kelamin RSUD Dr. Soetomo Surabaya, didapatkan data bahwa doksisiklin diberikan pada 59,2% pasien,
diikuti metronidazol (18,4%) dan eritromisin (4,1%). Pemberian antibiotik pada rosasea diberikan bukan karena efek antimikrobialnya, namun lebih untuk efek antiinflamasinya. Eritromisin 500 mg dua kali sehari merupakan terapi alternatif yang bermanfaat dan dapat digunakan pada pasien ibu hamil. Lamanya
pengobatan sistemik diperlukan untuk mengontrol inflamasi papul dan pustul berkisar dari 6 sampai 12 minggu. Pemilihan terapi sistemik untuk diberikan ke pasien sama seperti terapi topikal bergantung pada
pengalaman dokter dan pasien tertentu yang sedang dirawat. Terapi antibiotik oral sendiri berguna untuk kontrol awal, namun memiliki risiko resistensi antimikrobial dan efek samping antibiotik pada pemakaian jangka panjang

Facebook
WhatsApp
LinkedIn

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *